Wagner Heavy Coat HC940
Heavy Coat HC940Powerful high-performance pumps - the power pack for large building projects and for applying heavy, filled and high viscosity materials. Able to withstand aggressive and abrasive materials.

Wheel Alignment
Wheel Alignment
Toolmaker Microscope
Forklift Engine

HVLP SPRAY SYSTEM

HVLP Spray GunSpray Gun HVLP dikembangkan untuk menggantikan gun model lama. Sebuah regulator pengontrol tekanan udara membantu material untuk diatomisasi

Forklift Engine
hvlp Improving On Old Technology
HVLP spray was invented in the 1970's.
Gun design is similar to conventional air spray. Fluid is atomizedby a directing a high volume of low pressure air into a fluid stream.The design improves transfer efficiency over the conventional airspray method.

The Future of Cleaning Technology

Nilfisk Carpet ExtractorSmart Solutions™
Dual mode cleaning for renovation or maintenance cleaning
Airless Wagner
OSG
Logitrans Rotator
Special Promo Scissor
Home Berita Lanskap Ekonomi Indonesia

Ekonomi Indonesia Kini dan Masa Mendatang

Cuplikan Pemikiran Faisal Basri dalam Bukunya "Lanskap Ekonomi Indonesia"

Faisal BAsriFaisal BasriDampak krisis finansial global terhadap Indonesia tidaklah sedasyat yang dialami negara-negara lain. Indonesia relatif aman. Namun, ini tidak berarti perekonomian Indonesia kukuh. Ada beberapa penyebab yang membuat ekonomi Indonesia relatif aman. Perekonomian Indonesia dan sektor keuangannya tak terkait erat dengan sektor finansial Amerika Serikat. Harga minyak turun ke level di bawah $50 per barrel dan current account masih surplus walau surplusnya menyusut. Porsi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang juga sudah menunjukkan penurunan dan bergeser ke emerging markets dan Asia Tenggara. Sektor perbankan sudah cukup terkonsolidasi. Indikator kesehatan perbankan (Return on Assets/ROA, Retur on Equity/ROE, NIM, Capital Adequacy Ratio/CAR) di atas rata-rata negara tetangga, bahkan bisa dikatakan yang terbaik, kecuali loan to deposit ratio/LDR (terutama di kalangan bank BUMN). Di samping itu, ketahanan pangan terjaga dan peranan ekspor di dalam PDB Indonesia relatif kecil. Lalu, fondasi perekonomian Indonesia di tahun 2007-2008 lebih baik ketimbang yang ada pada tahun 1996-1997, termasuk inflasi yang lebih terkendali.

Kita bisa bertahan terhadap krisis dengan beberapa modal berikut. Pertama, perekonomian dan sektor keuangan kita tak terkait erat dengan sektor keuangan di Amerika Serikat, sehingga toxic assets yang disebarkan oleh lembaga-lembaga keuangan Amerika Serikat tak mewabah di Indonesia. Patut disyukuri bahwa sektor keuangan kita belum sempat berkembang liar. Kita masih belum terlambat untuk membangun kedaulatan keuangan dengan bertumpu pada sistem sirkulasi peredaan darah (perputaran dana) internal.

Kedua, perbankan kita, meskipun kikir dalam menyalurkan kredit, sangat sehat. Kasus Bank Indover dan Bank Century tak ada kaitannya dengan kiris finansial saat ini. Nisbah kecukupan modal (capital adequacy ratio) perbankan nasional kita sangat itnggi dan tertinggi di kawasan. Utang bermasalah (non-performing loan) sangat rendah, lebih rendah dari rata-rata negara tetangga dan jauh lebih rendah ketimbang pada masa krisis 10 tahun lalu. Asalkan potensi kredit macet kelompok-kelompok usaha yang sangat dekat dengan kekuasaan yang membebenai bank BUMN bisa dienyahkan, kita tidak akan melihat adanya potensi ledakan kredit macet. Indikator lainnya seperti ROA dan ROE juga relatif tinggi. Persoalan likuiditas ketat sudah pulih, walau persebarannya belum merata.

Ketiga, dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sumbangan ekspor terhadap produk domestik bruto di Indonesia paling rendah, yakni sekitar 25 persen. Beberapa tahun terakhir porsi ekspor Indonesia ke negara maju sudah menunjukkan kecederungan menurun. Keempat, pelaku usaha berpotensi mendapatkan energi tambahan dari penurunan harga komoditas. Tarif listrik seharusnya sudah diturunkan secara signifikan mengingat sekitar 70 persen belanja energi primer PT PLN terserap untuk bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah juiga semestinya memberlakukan harga yang wajar untuk gas, elpiji, dan pupuk.

Dalam menghadapi krisis, kita harus menyiapakan langkah yang tepat. Pertama, menempatkan dana pemerintah yang menganggur di bank-bank nasional yang sangat sehat tetapi dengan kondisi likuiditas ketat, mengingat masalah likuiditas ini juga merupakan kesalahan pemerintah dan Bank Indonesia. Kedua, menaikkan defisit APBN hingga mendekati 3 persen dari PDB. Ketiga, Bank Indonesia menyerap secara langsung maupun tak langsung Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah untuk menutupi defisit APBN.


Related Link :

Bookmark
 
Content View Hits : 376